Image-1540546304

Caption Foto By Pintrest

 

Kuliner Indonesia yang kaya dari Sabang sampai Merauke tidak akan ada habisnya bila dijadikan cerita. Dari sejarah, asal usulnya, sampai bagaimana rentetan cerita sebuah kebudayaan makan bisa terus ada. Salah satunya tradisi makan bersama dalam masyarakat kita yang bisa jadi ide untuk merayakan moment kebersamaan di Hari “Sumpah Pemuda”.

Masih dilestarikan hingga sekarang, kebiasaan makan bersama memiliki latar belakang sejarah unik dibaliknya. Berbagai daerah atau suku seperti Sunda, Jawa, bahkan Bali pun punya sebutan nama berbeda untuk kegiatan makan bersama yang begitu menarik bila kita ulik lebih jauh ceritanya ini, Omiyagoes. Seperti beberapa tradisi berikut yang kental akan budaya dan ternyata begitu erat kaitannya dengan kebiasan adat istiadat di Nusantara.

 

Foto by Tribun News

 

1. Liwetan atau Bancakan

Tradisi liwetan dilakukan dengan bersantap bersama di atas lembaran daun pisang. Dalam penyajiannya, nasi akan diletakkan di sepanjang daun pisang. Begitu juga dengan sayur mayur dan lauknya. Hal yang membuat liwetan unik adalah makan dengan menggunakan tangan langsung atau tanpa sendok. Makna tradisi yang dimulai dari kebiasaan dan pengaruh agama Islam di pesantren-pesantren di Jawa dan Sunda ini adalah nilai kebersamaan dan kesederhanaan. Filosofinya diambil dari tidak adanya perbedaan, semua makan di wadah yang sama, bersama-sama.

Di beberapa daerah, tradisi makan bersama seperti liwetan memiliki nama khusus, misalnya Megibung di Bali yang merupakan kebiasaan warga Karangasem, di ujung timur Pulau Dewata. Raja Karangasem, I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem menurut cerita adalah yang pertama mengawali tradisi ini pada tahun 1692 Masehi. Saat megibung orang-orang akan duduk bersama sambil menikmati makan dan berbagi cerita hingga bertukar piliran. Sajian untuk megibung bisa berupa babi yang diolah menjadi sate lawar, pepesan, selain itu ada olahan daging kambing dan sapi namun biasanya lawar dan uraban disantap paling awal. Megibung ini begitu lekat dengan tradisi masyarakat dalam upacara keagamaan adat pernikahan dan kegiatan sehari-hari.

 

foto by Pinterest


2. Tumpeng

Sajian berupa nasi berbentuk kerucut beserta lauk pauk yang ditempatkan di atas tampah ini menjadi bagian penting dalam perayaan tradisional seperti kenduri (perjamuan makan untuk peringatan peristiwa), juga menjadi wujud rasa syukur seperti pada perayaan ulang tahun dan melimpahnya hasil panen. Tumpeng berasal dari tradisi lama masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat suci dan sakral. Tumpeng menjadi warisan budaya Jawa yang diperkirakan ada sejak zaman penyebaran agama Hindu pada abad ke-15. Dengan filosofinya yang berbentuk kerucut gunung, tumpeng memiliki makna hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan dan horizontal antar sesama manusia.

Dalam kenduri, syukuran atau selametan, setelah pembacaan doa ada tradisi untuk memotong pucuk tumpeng dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling dituakan diantara yang hadir. Nasi Tumpeng yang biasanya berupa nasi kuning dilengkapi dengan berbagai lauk dan sayur, jumlah hidangan adalah tujuh karena dalam bahasa Jawa “pitu” dikaitkan dengan kata “pitulungan”, memiliki makna pertolongan dari Tuhan. Lauk pauk yang biasa disajikan adalah perkedel, telur, variasi tempe kering, serundeng, ikan asin, juga dianjurkan ada lauk pauk dari hewan darat seperti ayam atau sapi, hewan laut rempeyek teri, ikan bandeng, dan sayur mayur seperti kangkung, bayam atau kacang panjang. 

 

foto by Pinterest

 

3. Rijsttafel

Merupakan cara penyajian makanan berurutan dengan pilihan hidangan dari berbagai daerah di Nusantara. Cara penyajian ini berkembang pada masa kolonial Belanda yang memadukan etiket dan tata cara perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk setempat yang mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Cara penyajian ini dulu begitu popular di kalangan masyarakat Eropa-Indonesia, namun tetap digemari di Belanda dan dihidupkan lagi di Indonesia pada masa sekarang.

Konsep makan bersama ini seperti jamuan pesta yang meriah, sajiannya mewakili keanekaragaman suku bangsa di Nusantara. Aneka macam hidangan terkenal dari berbagai pulau seperti sate, tempe, dan serundeng. Dari Batavia dan Priangan ada masakan favorit seperti gado-gado, lodeh dengan sambal dan lalapan. Citarasa pedas kaya bumbu juga disajikan lewat hidangan rendang dan gulai dari Minang. Pada masa kolonial, sajian rijsttafel begitu bergengsi dan biasa dinikmati di hotel. Nasi dihidangkan bersama 40 hingga 60 jenis macam hidangan dalam piring kecil. Setelah perang kemerdekaan Indonesia 1945 risjttaffel ini dibawa ke Belanda oleh penjajah kolonial dan orang Indonesia yang kembali ke Belanda.

 

foto by Pinterest

 

4. Jajanan Pasar Kue Tampah

Budaya makan bersama, tak hanya untuk makan besar saja. Bahkan kue-kue tradisional juga ikut ditempatkan dalam tampah saat perayaan tradisi tertentu. Jenisnya pun sangat lengkap, mulai dari kue basah seperti kue lapis, klepon, dadar gulung, dan kue apem yang bercitarasa manis, sampai risoles, sosis Solo, tahu bakso, dan lepet.

Biasanya jajanan pasar kue tampah ini selalu ada saat acara selametan keluarga dan bahkan menjadi hantaran saat acara lamaran. Kue ditata dengan berbagai jenis jajanan tradisional yang beragam warnanya terlihat menarik dalam wadah nampan dari anyaman bambu. Alasnya menggunakan daun pisang yang ikut menjadi hiasan dengan bentuk kerucut segitiga untuk mempercantik tampilannya.

Siapa sangka keanekaragaman kuliner Indonesia dan budaya makan yang berisi semangat kebersamaan dan toleransi ini bisa jadi alat pemersatu bangsa ya Omiyagoes? Pas banget makanya di moment Hari Sumpah Pemuda ini kita budayakan lagi kebiasaan makan bersama dengan mengajak teman, keluarga, ataupun tetangga di lingkungan sekitar.  Dengan adanya itu, bisa memecah kecanggungan satu sama lain melalui serunya menikmati ragam kuliner Indonesia.

 

Share this Post: