Image-1494404487

Sensasi Makan Papeda dan Kuah Ikan Kuning di Ambon

Saat ke Ambon awal bulan lalu, saya bersama adik papa yang biasanya saya panggil Amy At, berkeliling kota Ambon. Seperti biasa, setiap datang ke Ambon, 

Nah saat ke Ambon, setelah berkeliling kota Ambon, perut terasa lapar. “Amy At yuk makan,” kata saya. “Mau makanan Ambon?,” kata Amy At. Hayukk, siapa takut!. Motor kemudian melaju ke kawasan Soabali, Kota Ambon. Tak ada tanda pengenal berupa papan nama rumah makan. 

Ini pertama kali saya makan di rumah makan itu. Walaupun 17 tahun tinggal di Ambon, saya belum pernah ke rumah makan ini. Bahkan ketika saya meninggalkan Ambon, dan berulangkali ke Ambon. Rumah makannya di desain sederhana. Di dalamnya tertata rapi meja makan dan kursi plastik. Di sebelah kiri, terletak lemari kaca berbentuk L. Di dalam lemari kaca itu, tersaji aneka makanan khas Ambon yang mengugah selera. Mulai dari ketela rebus hingga singkong rebus. Nah aneka makanan ini disajikan bersama aneka sayuran seperti tumis bunga pepaya hingga urap-urapan. Untuk lauknya, tersedia aneka ikan yang diolah dan dijamin bakalan ngiler.

 

 

Suasana di rumah makan khas Ambon

Salah satu olahan ikan yang disajikan adalah ikan asar dan kuah ikan kuning. Ikan asar ini kerapkali dimakan bersama nasi dan colo-colo. Pernah dengar colo-colo? Kalau di Manado, sering disebut dabu-dabu. Nah, colo-colo ini terbuat dari irisan bawang merah, irisan cabai rawit, daun kemangi dan jeruk nipis. Rasanya? Asem-asem pedas! Ingin cemilan yang menyeharkan? Pisang rebus juga tersedia di rumah makan ini.

Saat datang, saya tertarik untuk mencoba papeda dan kuah ikan kuning. Papeda adalah makanan yang terbuat dari pati sagu yang diolah bersama air panas. Kedua bahan ini kemudian diaduk rata hingga mengental. Oh ya,  papeda ini tak ada rasa sama sekali ya. Makanya, papeda itu enak kalau dimakan dengan ikan asar dicampur sambal colo-colo. Atau dimakan dengan kuah ikan kuning.

Tanpa menunggu lama, saya langsung memesan satu porsi papeda dan satu porsi kuah ikan kuning. Sekitar 10 menit menunggu, papeda yang tiba. Pertama kali lihat, waduh, saya kaget. “Kak, ini papedanya kebanyakan. Buat satu porsi saja,” kata saya kepada penjualnya. “Itu sudah satu porsi, kak,” katanya kepada saya. Ya ampun, lihat papeda sebanyak itu saja sudah membuat saya kenyang. Tapi karena papedanya sudah tersaji, mau tak mau saya pun makan.

 

 

Satu porsi papeda

Eits, saya baru makan setelah kuah ikan kuning tiba. Nah, pas kuah ikan kuning tiba, asap masih menggepul-ngepul. Ya, kuah ikan kuning ini disajikan dalam keadaan panas. Sesuai namanya, kuah ikan kuning ini adalah makanan berkuah kuning yang terdapat potongan ikan. Jangan bayangkan potongan ikannya kecil ya. Di rumah makan ini, ikan yang disajikan hanya satu tapi berukuran besar. Beberapa helai daun kemangi dimasukkan di dalam kuah ikan ini.

 

Nah, setelah papeda dan kuah ikan ini tersaji, saya binggung bagaimana ya cara makannya? Loh kok binggung? Maklum, saya sudah lama sekali tak makan papeda. Sepertinya terakhir makan papeda saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Hihhihi.

Karena melihat saya yang benggong menatap kedua makanan itu, Amy At inisiatif untuk menyajikan di piring saya. Pertama-tama, dengan menggunakan garpu, ia mengambil papeda dengan cara digulung dengan menggunakan dua garpu. Setelah itu, adonan papeda itu diletakkan di piring kosong. Kuah ikan kuning kemudian disiramkan di atas papeda. Unik kan caranya? Jadi, jangan bayangkan mengambil papeda menggunakan sendok kuah ya? Bakalan gagal menyendok papeda ke piring!. Hiihihi.

 

Papeda dan Kuah Ikan Kuning

Papeda yang disajikan bersama kuah ikan kemudian saya konsumsi. Papeda saya ambil sedikit denga jari kemudian langsung memasukkan ke mulut. Papeda tak usah dikunyah tapi langsung ditelan. Untuk menikmati kuah ikannya, banyak yang memilih mendekatkan piring ke mulut kemudian perlahan-lahan meminumnya. Unik kan?. Saya sendiri memilih untuk menikmati kuah dengan sendok. Mmh .. tetap lezat. Sebetulnya ada alat yang terbuat dari bambu yang biasanya digunakan untuk mengambil papeda. Namun kini banyak yang menggunakan garpu atau sumpit.

Pertama kali papeda dan kuah kuning masuk ke mulut, rasanya asam pedas. Saya tergila-gila dengan ikannya yang tak amis dan dagingnya banyak. Jadi puas sekali saat makan kuah ikan ini. Walaupun tak habis makan papeda, tapi kuah ikan kuning habis saya santap. Lezat banget!. Oh ya, harga makananya sangat terjangkau. Papeda satu porsi seharga Rp 5000. Sedangkan kuah ikan kuning seharga Rp 15 ribu. 

Menikmati kuliner khas daerah seperti papeda dan kuah ikan kuning membuat saya semakin bersyukur berada di Indonesia yang menyajikan beragam kuliner yang mengugah selera. Kini, TelusuRI kuliner khas Indonesia juga dapat diperoleh di Omiyago. Aneka kuliner di tersajikan di Omiyago dapat menjadi pilihan terbaik untuk hadiah untuk orang tercinta.

Apakah teman pernah mencicipi papeda dan kuah ikan kuning? Jika belum, apakah tertarik ingin mencoba? Yuk berbagi ... Terima kasih 

Share this Post: