Image-1558687563

 Foto by : 500px.com Rarindra Prakarsa

Mendekati momen lebaran tiba, Omiyagoes yang ingat kampung halaman pasti juga akan teringat berbagai tradisi atau kegiatan seperti mudik dan perayaan unik yang dulu saat masih kecil pernah dilakukan. Apalagi lebaran nggak hanya identik dengan mudik saja kan Omiyagoes. Dari berbagai daerah mulai di Aceh, Riau, Pontianak, Yogyakarta, Bengkulu, Bangka bahkan di Bali, Lombok dan Maluku ada juga lho tradisi uniknya. Sambil mengingat lagi, yuk simak tradisi lebaran unik yang ada di berbagai daerah di Indonesia berikut ini.

1. Meugang – Aceh

foto dok: ezzepoints

Ada Meugang yang tiap tahunnya selalu dilakukan saat menjelang lebaran di Aceh. Meugang merupakan tradisi memasak dan makan bersama untuk dibagikan kepada kaum dhuafa sebagai cara untuk berbagi di hari yang suci. Dengan semangat kebersamaan antar sesama, warga sekitar kampung berkumpul di Masjid untuk memasak daging dan makan bersama-sama. Tradisi Meugang ini nggak cuma dilakukan jelang Idul Fitri saja lho Omiyagoes, saat perayaan Idul Adha juga. Omiyagoes yang orang asli Aceh pernah ikutan?

2. Batobo – Kepulauan Riau

foto dok: jadiberita.com

Saat jelang lebaran ada tradisi masyarakat Indonesia yang kental banget, yaitu mudik. Nah di Riau nggak cuma mudik, tapi ada kebiasaan di mana perantau yang mudik akan dijemput oleh keluarga, tradisi ini disebut dengan tradisi Batobo. Tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini unik banget lho Omiyagoes. Rombongan pemudik yang pulang juga diarak menggunakan rebana melintasi persawahan dan menuju tempat berbuka puasa bersama. Tak hanya dijemput dan diarak, saat malam tiba, kegiatan silahturahmi dilanjutkan lagi dengan pengajian dan lomba membaca Alquran. Bukan sekadar tradisi biasa, Batobo ini menjadi ajang silaturahmi pelepas rindu dengan keluarga dan tetangga di kampung halaman.

3. Rontok Sayak – Bengkulu

foto dok: liburmulu.com

Saat malam takbiran ada tradisi Rontok Sayak yang merupakan kebiasaan dari Suku Serawai di Bengkulu. Tradisi unik ini disebut juga bakar gunung api yang dilakukan di depan rumah setiap warga. Bakar gunung ini hanya penamaan aja kok Omiyagoes, karena memang tumpukan batok kelapa dibuat menjulang seperti gunung lalu dibakar. Tepatnya tradisi Rontok Sayak dilakukan setelah Isya sekaligus untuk menyemarakan malam takbiran. Ada makna tersendiri dari tradisi Rontok Sayak ini lho Omiyagoes, menurut kepercayaan setempat, batok kelapa yang disusun dan dibakar merupakan tanda ucapan syukur pada Tuhan, sekaligus sarana mengirim doa untuk arwah sanak keluarga yang telah meninggal.

4. Bedulang – Bangka Belitung

foto dok: paket tour belitung

Selanjutnya ada Bedulang, tradisi makan bersama dalam satu dulang bagi masyarakat Bangka dan Belitung. Tradisi ini dilakukan setelah silaturahmi keliling kampung dan biasanya makan bedulang dilakukan dengan duduk bersila. Ada makna filosofisnya lho Omiyagoes, dari posisi duduk bersila ini berarti semua orang sama rata dan saling menghargai antar masyarakat. Nah, bedulang ini sajian makanannya menggunakan tudung saji berbentuk kerucut besar. Di dalamnya berisi piring dengan aneka lauk, sayuran dan ada juga nasi yang ditempatkan pada bakul tersendiri.  Selain duduk bersila, saat makan juga langsung pakai tangan dan yang lebih tua boleh mengambil makanannya dulu kemudian disusul anggota keluarga yang paling muda.  

5. Festival Meriam Karbit – Pontianak

foto dok: sitimustiani.com

Pemandangan yang tak biasa bisa Omiyagoes dapati di sepanjang tepian Sungai Kapuas jelang lebaran tiba dengan adanya Festival Meriam Karbit. Tradisi yang sudah dilakukan selama lebih dari 200 tahun ini menjadi momen menarik setahun sekali buat masyarakat Pontianak. Seperti namanya, ada meriam besar terbuat dari bambu besar dan batang kelapa dengan diameter yang bisa mencapai 60 cm. Omiyagoes jadi penasaran kan? Saat masyarakat Pontianak menyusuri Sungai Kapuas seolah moncong-moncong meriam diarahkan kepada siapa saja yang melintas. Tradisi ini punya makna memeriahkan bulan Ramadan sekaligus menyambut hari kemenangan tiba.

6. Grebek Syawal -  Yogyakarta

foto dok: wego

Kalau tradisi Grebek Syawal pasti Omoyagoes sering denger dong? Menjadi sebuah perayaan meriah, seperti arti kata grebek itu sendiri dan kata syawal mengacu pada bulan syawal. Dalam tradisi ini ada tujuh gunungan hasil bumi yang diarak dari Keraton ke jalan di kota Jogja. Ketujuh gunungan tersebut menjadi simbol perwujudan sedekah dari Sultan untuk rakyatnya. Selain itu bagi masyarakat Jogja, tradisi ini punya makna sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

7. Ngejot – Bali

foto dok: jadiberita.com

Suasana menyambut Idul Fitri makin terasa saat ada tradisi Ngejot di Bali, apalagi di pulau ini umat muslimnya tidak terlalu banyak. Masyarakat Bali yang merayakan lebaran biasanya memberikan hidangan rumahan pada tetangga yang disebut dengan tradisi Ngejot ini untuk menunjukan keanekaragaman yang ada di Bali. Umat muslim di Bali memberikan tetangga makanan khas lebaran yang sudah dalam bentuk siap saji, kue serta buah-buahan. Sementara umat Hindu memberikan makanan berupa urap dan sayuran lawar. Dari tradisi ini ada makna saling toleransi, menghargai perbedaan dan juga berbagi dengan sesama antar umat beragama di Bali.

8. Perang Topat – Lombok

Foto dok: Phinemo

Beda dengan Bali, di Lombok umat muslimnya lebih banyak dan mendominasi. Di Lombok ada tradisi unik menyambut lebaran yaitu Perang Topat yang dilakukan pada hari keenam lebaran dan dilakukan oleh para pria. Tradisi yang berasal dari Suku Sasak asli Lombok ini dilakukan dengan tujuan mempererat hubungan antar umat beragama di Lombok. Sebelum Perang Topat atau perang ketupat, masyarakat setempat akan terlebih dahulu mengarak hasil bumi. Filosofi dari kepercayaan melempar ketupat ini memiliki arti agar semua permohonan dan doa akan segera terkabul.

9. Pukul Sapu – Maluku Utara

Foto dok: Phinemo

Nah, di bagian Indonesia Timur ada tradisi Pukul Sapu yang dilakukan masyarakat Maluku Utara saat lebaran hari ke-tujuh agar suasana lebaran lebih meriah. Para pemuda desa akan berkumpul untuk melakukan tradisi Pukul Sapu yang menggunakan lidi dari pohon enau. Tradisi yang berlangsung sekitar 30 menit ini menjadi cara untuk menjalin kedekatan untuk tetap bersilaturahmi antar desa.

Unik banget ya tradisi saat menyambut lebaran di berbagai daerah di Indonesia. Dari tradisi ini, Omiyagoes jadi mengenal bahwa Nusantara begitu kaya tradisi yang bahkan sampai sekarang masih lestari. Ohya ngomongin soal lebaran, persiapan apa nih yang sudah Omiyagoes lakukan untuk menyambut tamu? Biar nggak repot, yuk buka OMIYAGO dan temukan berbagai kue, sirup, makanan dan “Paket Spesial Lebaran” yang bisa untuk hantaran maupun persiapan lebaran di rumah.

Share this Post: