Image-1549533909

Foto by Pinterest

Ubud dengan pesonanya, sebuah tempat yang dikelilingi oleh tanaman dan persawahan yang memberikan pemandangan nan hijau. Menyisipkan waktu setengah hari ke sebuah hutan dengan cerita legenda makhluk yang dianggap suci di Bali ini akan membawa atmosfer pagi dan jalan-jalan sore terasa menyenangkan.

Suatu siang, awal tahun, di Pulau Dewata, Bali. Bau aroma matahari dan teriknya terasa begitu kontras dengan hawa segar dari tiap bagian pepohonan di The Sacred Monkey Forest Sanctuary, salah satu objek wisata terkenal di Ubud, tempat sekawanan monyet hidup.

Monyet dan legenda keberadaannya menjadi elemen penting dalam tradisi berkesenian di Bali. Tampak pada beberapa tarian khas seperti kecak dan sendratari Ramayana dimana monyet menjadi figure yang menonjol dalam kisah ini.

foto :dyahpamelablog.wordpress.com

Bukan sebuah kebetulan, habitat monyet begitu dilindungi di Bali. Menurut kepercayaan masyarakat Hindu yang ada di Bali, monyet maupun kera diklasifikasikan ke dalam salah satu jenis hewan suci. Dahulu, ada legenda sejarah Ramayana menceritakan tentang konstruksi besar jembatan panjang benama Situbanda yang dibuat oleh pasukan monyet di bawah pengawasan langsung Sri Rama yang menurut cerita itu merupakan inkarnasi dari Dewa.

Hampir di setiap hutan monyet yang ada di Bali terdapat sebuah tempat suci yang digunakan oleh masyarakat Hindu Bali untuk sembahyang. Mengungkapkan rasa syukur kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Menghirup segarnya udara di The Sacred Monkey Forest Sanctuary akan mengingatkan saat menyenangkan sewaktu piknik zaman sekolah. Masuk ke dalam hutan, rasanya paru-paru penuh dengan oksigen yang segar dari ekosistem hutan. Sejauh mata memandang adalah pepohonan dan lumut hijau yang tampak segar memanjakan indra penglihatan.

 Foto : elitejetsetter.com

Kawanan monyet, makhluk lucu yang lompat ke sana – ke mari dan kadang iseng jail mendekat ke wisatawan juga jadi hiburan tersendiri. Kita secara langsung bisa melihat tingkah polah si monyet di habitatnya. Makan, minum, mencari kutu ataupun sedang berenang di kolam. Rasanya kita sedang ada di dunia monyet! Maka tak salah tempat ini dinamakan Monkey Forest. Jenis monyet yang hidup di dalam kawasan Monkey Forest Ubud dikenal sebagai kera Bali ekor panjang yang dalam istilah ilmiah dinamakan Macaca fascicularis.

Ada sekitar 900 ekor monyet yang menghuni kawasan ini, terbagi dalam beberapa kelompok. Ada di pura dalem, timur, tengah, kuburan dan selatan. Jalanannya naik-turun, seperti halnya sedang trekking di daerah pegunungan. Meski begitu luas, jangan khawatir akan kesasar, ada papan petunjuk untuk kembali lagi ke pintu utama. Karena jumlahnya cukup banyak, konflik antar monyet tidak dapat dihindari, ternyata bukan manusia saja yang berkonflik, kera juga! Seperti misalnya saat mandi ke sungai di musim kemarau, kelompok tertentu mesti melewati wilayah kekuasaan kelompok lain. Ternyata ada politik juga di dunia monyet.

Foto by : thectazytourist.com

Monyet yang ada di Monkey Forest terbilang monyet yang aktif di siang hari. Monyet betina mengandung selama 6 bulan dan umumnya melahirkan 1 ekor bayi. Bayi kera biasa tinggal bersama induknya kurang lebih 10 bulan dan sesudahnya akan disapih untuk hidup mandiri.

Monyet termasuk binatang omnivora. Di Wenara Suci Wenara Wana, sebutan lain Monkey Forest Ubud ketela rambat menjadi makanan utamanya. Diberikan minimal tiga kali sehari dan setiap hari dikombinasikan dengan pisang, daun, papaya, jagung, mentimun, kelapa, dan buah-buahan lokal lain. Pengunjung disini tidak diperkenankan memberi makanan selain yang sudah ada di Monkey Forest.

Rasanya, belum ke Ubud kalau tak menyempatkan waktu mengunjungi Monkey Forest. Sama halnya kalau traveling tapi tak membawa oleh-oleh. Tak ingin repot membawa kelebihan bagasi di pesawat karena oleh-oleh? Cek website OMIYAGO aja, karena ada banyak pilihan oleh-oleh makanan khas Bali yang enak dan sayang kalau tidak beli.  

The Sacred Monkey Forest Sanctuary

Alamat: Jalan Monkey Forest, Padangtegal, Ubud, 80671, BALI

Harga Tiket Masuk:

Wisatawan lokal dan asing Rp 50.000/orang

 

 

Share this Post: