Image-1554368113

Foto by: bhmpics.com

Namanya Daya (diperankan Dian Sastrowardoyo), seorang gadis desa lugu usia belasan yang tinggal di perkampungan miskin suatu daerah dekat Pegunungan Bromo. Daya terlihat sering menelungkupkan diri pada tanah berpasir seolah-olah bisa merasakan hembusan pasir bisa berkata-kata, berbisik sesuatu padanya. Pasir berbisik yang menyiratkan kerinduannya akan kedatangan sosok sang ayah.

Sedikit saja, teaser dari film Pasir Berbisik yang akhirnya menjadi nama sebuah tempat wisata di Gunung Bromo, Malang, Jawa Timur yang jadi populer. Tak lama setelah tahun 2001 film ini dirilis, wisata di Gunung Bromo pun ikut naik. Bukan cuma tentang pasir yang seolah berbisik di tempat ini, hamparan gunung dan bukit-bukit layaknya miniatur seni yang indah juga tak terungkap lagi dengan kata-kata untuk menggambarkan bagaimana indahnya.

Pasir Berbisik seperti namanya, saat berada di sini pasir hitam yang sebenarnya sisa abu vulkanik Gunung Bromo seolah berbisik. Dalam arti, pasir-pasir ini diterbangkan angin kemudian terasa membuai dan sedang berbisik kepada siapa pun yang tengah merenungi daya magis alam ciptaan Tuhan.

Foto by Travelingyuk

Terlepas dari cerita asal mula nama Pasir Berbisik, belasan tahun setelah Pasir Berbisik terkenal, aku datang ke tempat ini untuk liburan bersama keluarga. Mengajak ayah dan ibu yang usianya sudah separuh abad lebih, kenapa tidak? Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan objek Pasir Berbisik dan Bukit Teletubis yang terkenal itu sangat bisa dijadikan tempat wisata keluarga yang mudah dijelajahi oleh anak-anak bahkan orang tua.

Menjelajahi indahnya Bromo tak perlu susah-susah seperti mendaki gunung pada umumnya. Bahkan tanpa perlu berjalan menanjak dengan gradien garis kemiringan yang nyaris nol. Omiyagoes hanya perlu duduk manis di dalam mobil jeep berkapasitas 5 hingga 6 orang dan akan diantar ke beberapa situs menariknya.

Biasanya sewa jeep di Bromo sudah termasuk dalam paket wisata berkeliling semua tempat wisatanya termasuk ke Pasir Berbisik yang terkenal itu. Kenapa harus jeep? Sekarang ini, tidak diperbolehkan lagi mobil pribadi memasuki kawasan Gunung Bromo karena khawatir dengan kontur tanah dan alamnya. Jeep yang dikendarai warga lokal memiliki roda khusus sehingga bisa melewati wilayah berpasir dan dipastikan lebih aman untuk wisatawan.

Foto by : pinimg.com

Pantas saja kalau Bromo tidak pernah sepi. Hampir semua orang lokal yang aku tanya jawabannya begitu. Apalagi saat akhir pekan, banyak muda mudi dari luar kota Malang dan turis asing dari berbagai Negara datang jauh-jauh untuk menyaksikan matahari terbit di Bromo.

Ada kesan tersendiri saat melihat pergantian nuansa warna langit saat cakrawala berubah terang. Seketika saja, siapa pun akan dibuat takjub dengan pemandangan gumpalan awan-awan yang bergumul. Karena masih pagi dari atas Omiyagoes juga bisa melihat kabut ikut menutup hamparan sawah pepohonan di sekitar desa Cemoro Lawang yang merupakan pintu masuk Taman Nasional Tengger Bromo Semeru.

Jangan lewatkan atraksi berkuda di dekat lokasi kawah Bromo saat datang ke sini. Pakailah sepatu yang nyaman, pakaian yang menutup dan melindungi dari sinar matahari dan dinginnya cuaca di Bromo. Perlu diingat, saat subuh hingga matahari terbit suhu di Bromo akan mencapai sekitar 19 derajat. Namun meski dengan udaranya yang sejuk ketika menjelang siang, cuaca akan menjadi panas dan matahari bisa menjadi sangat terik.

Ada beberapa jalur yang bisa dilalui jika kamu ingin ke Gunung Bromo. Pertama lewat jalur Malang dari Tumpang, lalu dari Pasuruan lewat Tosari dan Purwodadi, dan dari Probolinggo lewat Cemoro Lawang. Semua jalur ini biasanya akan dipilih pelancong tergantung dari mana arah terdekat menuju Gunung Bromo.

Foto by: Time Travel Turtle

Omiyagoes yang belum pernah berwisata ke Gunung Bromo dan main ke Pasir Berbisik maupun Bukit Teletubis di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pastinya penasaran dan ingin banget pergi ke sana. Jangan lupa pulangnya beli oleh-oleh khas Malang, ada banyak jenis keripik buah maupun makanan khasnya yang terbuat dari tempe bisa dijadikan buah tangan. Nah, kalau tidak ingin repot bawa bagasi dan barang bawaan lebih, oleh-oleh khas Malang tadi bisa Omiyagoes temukan di website OMIYAGO. Yuk langsung meluncur ke situs OMIYAGO!

Beberapa Tips Saat Wisata ke Bromo :

(1) Sewa jeep untuk satu paket tour harganya rata-rata itu sekitar Rp. 550.000 – Rp 700.000 namun akan banyak yang menawarkan sekitar Rp 1 juta – Rp 1,5 juta, sebaiknya menawar.

(2) Mobil pribadi sudah lama tidak diperbolehkan keiling Pasir Berbisik dan sampai ke bawah daerah trek yang banyak pasir itu, karena butuh skill menyetir dan kendaraan beroda besar untuk medan terjal di Bromo, sehingga memang lebih aman menyewa jeep.

(3) Jangan takut akan kehabisan jeep untuk disewa karena menurut penduduk jeep di Bromo hampir 1000 lebih jumlahnya. Mereka juga memiliki komunitas jeep, sehingga berwisata ke Bromo meski sedang musim liburan tetap akan tersedia.

(4) Di Bromo, mayoritas beragama Hindu. Sehingga masjid jarang ada, namun tetap ada musholla dan bila ingin solat subuh dulu sebelum sunrise bisa di dekat lokasi.

(5) Sebaiknya pergi saat bukan musim liburan seperti bulan Juni-Juli atau Desember-Januari karena untuk melihat sunrise kurang leluasa apalagi untuk mendapatkan foto yang bagus.  

(6) Siapkan banyak uang receh di kantong, untuk ke toilet atau membeli camilan saat lapar.

(7) Walau ke semua lokasi wisata kita akan diantar jeep, direkomendasi untuk memakai sepatu yang sporty atau sepatu nyaman dan tidak disarankan memakai sandal karena saat siang cuacanya akan panas.

(8) Ada tiga jalur pendakian ke Bromo. Salah satunya via Pasuruan. Tapi kebanyakan orang via Malang, mungkin karena naik kereta, Omiyagoes bisa memilih yang dekat dari lokasi asal.

Share this Post: